Catatan Untuk Kereta Api


Sebagai frequent user dari kereta Argo Gede jurusan Bandung-Jakarta (PP), saya mempunyai beberapa catatan dari hasil pengamatan saya selama menggunakan jasa angkutan ini.

- Penawaran Makanan

salah satu hal yang paling mencolok yang saya rasakan agak janggal dari penawaran makanan diatas kereta adalah, bahwa mereka tidak memberikan menu yang disediakan kepada penumpang, atau setidaknya menu makanan itu harusnya disimpen di jok penumpang, sehingga penumpang menjadi tahu apa yang ingin dia makan dan berapa harganya. Karena selama ini, makanan hanya ditawarkan dalam bentuk penawaran secara lisan, tanpa ada foto dari bentuk makanan dan harganya. Sehingga, saya sendiri sebagai penumpang jadi males untuk memesan, meskipun saya saat itu dalam keadaan lapar.

- Menu Makanan

bagai para penumpang kelas eksekutif, sebenarnya disediakan makanan/snack gratis yang dibagikan ditengah perjalanan. Tetapi saya rasa menu snack yang dibagikan membosankan dan rasanyapun tidak enak. Sementara menu snacknya juga terlalu kebarat-baratan…gag mencerminkan Indonesia. kenapa harus roti dan bolu? dan ditemani air mineral dalam gelas? kenapa tidak mencoba memberikan menu snack yang khas Indonesia? seperti lemper, gorengan atau kue-kue khas Indonesia. Saya yakin harganyapun jauh lebih murah dari snack yang selama ini dibagikan.

Selain itu, menu makanan yang dijual pun rasanya terlalu kebarat-baratan…sekali lagi, tidak mencerminkan menu Indonesia. Kenapa tidak menawarkan menu khas Indonesia, seperti menu khas sunda/parahyangan untuk kereta2 yang menuju ke tatar parahyangan, atau menu2 khas Jawa Tengah & Jawa Timur untuk kereta2 yang menuju kesana. Saya yakin, ini jauh lebih menarik bagi para pengguna jasa kereta api. Saya pribadi sebagai pengguna kereta Argo Gede yang berangkat pagi2 dari Bandung menuju Jakarta, cenderung menginginkan penganan tradisional khas Bandung (gorengan) hangat2 beserta segelas teh tawar hangat yang menemani perjalanan saya melawati tatar sunda yang eksotis. Dibanding bistik sapi yang gag jelas rasanya dan belum tentu pas di mulut dan perut saya.

Lalu, dari harga, kenapa harga makanan diatas kereta harus selalu lebih mahal? wait…mahal mungkin OK, tapi reasonable lah…jangan mahal dan memberatkan. Masak secomot nasi goreng dijual dengan harga mendekati Rp.15000, sementara rasanyapun tidak semahal itu. Harga Rp.10000 mungkin udah cukuplah. Saya rasa, semua harga makanan diatas kereta harus dievaluasi lagi, dan pihak yang terkait seharusnya berpikir untuk tidak mengambil keuntungan dulu sebelum memberikan pelayanan yang terbaik.

Eit…sebelum habis, saya juga ingin mengkritik gerbong restorasi beserta para karyawannya. Restorasi seharusnya bisa dijadikan gerbong untuk makan oleh para pengguna jasa kereta api, bukan sebagai tempat tiket berdiri dan tempat naik gratisan. Selain itu, para penumpang kereta juga bingung kemana harus memanggil petugas restorasi jika ditengah perjalanan membutuhkan asistensi dan bantuan dari petugasnya.

Hmmm, rasanya banyak banget yang harus diperbaiki. Tapi gapapakan? demi kemajuan kereta api Indonesia.

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
SALIVA - SUPERSTAR II - Lyrics
Let Me Die in My Footsteps

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

padahal ceuk urang mah, kalo dari dulu service di Kereta api bagus, mereka gak perlu nurunin tarif.. dari sananya kereta punya keunggulan. sayang karena service nya belum memuaskan dan sering (ato selalu) ngaret, konsumen lebih milih travel..

katanya denger-denger…
nasi goreng itu bekas nasi yang ga laku-laku…
nasi rames itu… bekas ikan yang ga laku-laku… hihihi…

wah emang kalo naik kereta pasti beda deh :)

Jangan berharap banyak dengan tarif Rp.45K bos….