7P of Marketing Mix VS Internet Usage
“which are 7P’s of marketing that gaining benefits or suffering loss from internet usage?”
Untuk bisa jawab pertanyaan itu, pertama kita harus mengartikan 7P itu sendiri dulu, baru bisa menganalisanya satu persatu. Dibawah ini dijelaskan satu persatu,
1. People
“People” adalah orang yang melakukan kontak dengan kustomer yang berdampak terhadap kepuasan pelanggan. Apakah itu sebagian dari bagian pelayanan dari produk atau terlibat secara total didalam pelayanan, “people” adalah bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses pelayanan terhadap pelanggan. Sebagai tuntutan dari ini semua adalah semua orang yang terlibat harus mempunyai kemampuan yang tepat, motivasi yang tepat. Istilahnya right man on the right place (orang yang bener ada di sebelah kanan :)) )
kalau dilihat dari karakteristik pemasaran melalui internet, maka pemasaran melalui internet mempunyai kekurangan, karena meniadakan proses tatap muka antara penjual dan pembeli. Dan jika ingin sukses, maka harus ada cara yang menggantikan proses tatap muka antara penjual dan pembeli itu. Contohnya, dengan menambahkan pelayanan hotline number yang dapat dikontak kapan saja dalam waktu 24 jam untuk melayani kebutuhan pelanggan, dengan nomor yang diakui prestige nya. Contohnya nomor telepon kabel (PSTN), karena untuk meyakinkan calon pembeli bahwa, calon penjual barangnya bener2 ada, bukan hanya website palsu. Hal ini bisa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita mau percaya ketika kita akan membeli barang di internet, tapi nomor yang bisa dihubunginnya cuman nomor handphone.
2. Product
Aspek “Product” berhubungan dengan spesifikasi aktual dari barang atau jasa yang akan dijual. Apakah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan calon pembeli atau tidak. Skope dari aspek produk termasuk elemen2 penunjangnya, seperti garansi, layanan purna jual dan dukungan teknis.
Aspek produk ini secara umum dikatakan diuntungkan dengan adanya pemasaran melalui internet, karena melalui internet, aspek spesifikasi produk secara gamblang dapat dijabarkan melalui halaman web, disertai dengan foto aktual dari produk itu sendiri. Juga dapat dijelaskan mengenai garansi, layanan purna jual dan dukungan teknisnya. Meskipun tidak dapat dilihat secara fisik, tetapi calon pembeli dapat melihat barangnya melalui foto/gambar aktual dari produk itu sendiri.
3. Price
Aspek “price” atau harga berhubungan dengan proses penentuan harga dari produk, termasuk discount dan biaya lain2 yang diperhitungkan saat penentuan harga (biaya produksi, biaya distribusi dan biaya pemasaran).
Aspek “price” ini diuntungkan dengan pemasaran melalui internet, karena calon penjual tidak perlu mempunyai toko secara fisik atau tempat penyimpanan barang/gudang fisik, biaya pemasaran konvensional yang dapat memakan biaya tambahan yang pada akhirnya akan berdampak pada mahalnya harga produk yang harus ditanggung oleh pembeli. Dengan meniadakan biaya penyimpanan, biaya pemasaran konvensional dan biaya pemeliharaan/ perawatan / sewa gedung / toko, maka harga akhir dari produk atau jasa akan menjadi lebih murah. Dan hal ini tentu saja menguntungkan bagi calon pembeli.
4. Promotion
Aspek “promosi” berhubungan dengan proses promosi, publikasi dan penjualan, branding dan berbagai metode penjualan produk/ merk.
Promosi secara konvensional tentu saja berbeda dengan promosi di internet, semuanya tergantung dari audiences atau segment market yang ingin disasar. Oleh karena itu jika dikatakan segment market yang disasar adalah orang2 yang terbiasa menggunakan internet/ ber e-mail dan doyan chating, maka teknik pemasaran yang dilakukan adalah pemasaran melalui internet, sementara jika segment market yang ingin disasar adalah segment market yang jarang menggunakan internet, maka teknik pemasaran tidak boleh hanya teknik pemasaran online, tetapi harus didukung dengan teknik pemasaran konvensional (iklan media masa, selebaran etc). Tetapi secara logis, orang yang memasarkan barangnya melalui internet, pasti menyasar segment market yang jelas2 sering menggunakan internet, dan tidak akan menyasar abang2 becak atau ibu-ibu di pasar tradisional yang justru tidak terhubung ke internet sama sekali.
Secara umum, aspek promosi diuntungkan, karena berpromosi di internet itu, secara umum lebih murah dibandingkan dengan teknik promosi konvensional di media massa yang menghabiskan banyak uang. Tetapi tentu saja, berpromosi melalui internet hasilnya tidak akan seefektif dari beriklan di media massa.
5. Process
Aspek “process” berhubungan dengan proses penyediaan jasa dan perilaku orang (dalam hal ini penjual) yang dapat berdampak sangat krusial terhadap kepuasan pelanggan.
Aspek proses dikatakan diuntungkan oleh penggunaan internet, JIKA proses yang ada dibuat semudah mungkin bagi calon pembelinya. Karena jika proses yang ada ribet dan bertele-tele, maka tidak akan ada bedanya dengan proses jual beli secara nyata. Dengan penggunaan internet, proses jual beli seharusnya dijadikan lebih mudah, karena secara logis, calon pembeli tidak perlu beranjak dari kursinya untuk pergi ke toko, memilih, membayar, dan membawa pulang barang tersebut. Oleh karena itu proses transaksi yang simple sederhana, beserta cara pembayaran yang mudah, akan sangat disukai oleh calon pembeli di internet.
6. Place
Aspek “place” adalah bagaimana produk tersebut bisa sampai kepada pembeli. sebagai contoh, tempat penjualan barang.
Secara umum, dengan penggunaan internet, aspek ini menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bagi pembeli, dia tidak perlu jauh-jauh mendatangi toko dari barang yang diinginkan, cukup dari meja komputer atau dari layar laptopnya sendiri. Sedangkan dari sisi penjual, dia tidak perlu menyediakan tempat/toko untuk berjualan, dan tempat untuk bertemu dengan pelanggannya. Cukup menyediakan satu website yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, maka proses transaksi dapat dilakukan.
7. Physical Evidence
Tidak seperti aspek “produk”, aspek pelayanan tidak dapat dirasakan sebelum dilihat dan dicoba langsung.
Ini berarti calon pembeli menghadapi resiko yang lebih besar berkaitan dengan kepercayaan dari niat baik si penjual yang ditemuinya di internet. Secara logis, dia tidak akan mudah percaya begitu saja. Untuk menimbulkan rasa percaya di sisi calon pembeli, penjual harus memberikan jaminan bahwa dia benar-benar ada, contohnya itu melalui testimonial dari orang lain yang pernah bertransaksi jual beli dengan penjual tersebut. Tapi hal ini tidak dapat dilaksanakan begitu saja dengan mudah. Secara umum, aspek “phisical evidence” ini dirugikan dengan adanya penggunaan internet, karena secara logis para calon pembeli mengharapkan sesuatu yang tangible yang dapat dilihat, dirasa secara nyata.



thanks bro, manffat bgt nih tulisannya