Restrukturisasi Organisasi
Bulan ini ada restrukturisasi di kantor saya. Mungkin lebih tepat di divisi dimana saya bekerja. Divisi network. Dimana, selama ini divisi regional network operation and maintenance (RNOM) terbagi atas 2 sub ordinat, yaitu Jakarta Inner dan Jakarta Outer, dibawahi oleh masing2 satu orang manager dan satu orang sub section head. Divisi network operation and maintenance ini didalam kesehariannya bertugas untuk menjaga stabilitas performansi network di areanya, dengan scope mencakup perangkat radio (Akses dan Transmisi) di luar dan di dalam shelter. Sementara untuk urusan shelter, power supply dan facility, diurus oleh divisi building facility operation and maintenance (BFOM).
Hasil dari restrukturisasi ini adalah melebur kedua divisi tersebut kedalam satu divisi. Dimana tugas dan kewajiban dari divisi baru tersebut adalah mencakup tugas kedua divisi sebelumya, tetapi area yang dipegangnya menjadi lebih sedikit, karena ada pembagian area menjadi 6 area kerja. Sehingga dari hasil pembagian tersebut, secara area memang menjadi lebih kecil, tetapi dengan tugas dan tanggung jawab yang lebih besar (melebar).
Minggu ini, tim yang sudah terbagi kedalam area masing2 mulai bekerja dan konsentrasi terhadap areanya masing-masing. Sub section head dan manager yang baru bertugas mulai menerapkan strategi dan taktik mereka masing-masing didalam mengurusi performansi network yang dibawahinya. Secara positif, memang restrukturisasi tersebut membawa dampak yang bagus bagi tim. Dimana tim yang ada lebih berkonsentrasi terhadap area dan tanggung jawab masing-masing.
Setelah restrukturisasi ini yang terasa sangat kentara sekali adalah persaingan antar area untuk masing-masing menampilkan performa terbaik dari network yang dibawahinya. Tapi ternyata disini ada ketimpangan. Dimana ketimpangan tersebut datang dari manager dan sub section headnya. Dimana karena setiap manager dan sub section head nya mempunyai cara yang berbeda-beda didalam mengurusi tim dan area nya, maka persaingan yang ada mengarah pada kecemburuan dan kesenjangan.
Gejolak dikalangan bawah ini disebabkan karena para engineer yang ada di setiap area masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama, tetapi cara yang dipakai setiap manager untuk memotivasi tim di areanya berbeda-beda. Ada yang pintar memotivasi karena dia mengerti tugas dan tanggung jawab engineernya, tapi ada juga yang tanpa tedeng aling-aling mematikan motivasi engineernya. Sehingga sering timbul kalimat “wah!, ternyata ada di area nya Pak anu lebih enak yah…”. Hal ini tidak disadari oleh para manager dan sub section head.
Hal diatas mungkin disebabkan oleh penempatan orang pada setiap posisi dan sub ordinatnya tidak disertai dengan analisis menyeluruh mengenai kapabilitas setiap orangnya. Sehingga sampai saat ini di lapangan sering tampak manager atau sub section head yang bingung ketika menghadapi krisis atau masalah di lapangan. Ada manager dan sub section yang tegas dan berwibawa ketika di lapangan, tapi ada juga yang kikuk dan bingung ketika di lapangan. Sejujurnya, ini bukan satu hal yang bagus.
saya sebagai engineer yang berada dibawah, merasa, seandainya perubahan struktur dipikirkan dengan matang oleh general manager di divisi saya, pastilah dia akan memikirkan antisipasi dan langkah-langkah yang tepat untuk menghindari dan menyelesaikan permasalahan yang diceritakan diatas. Karena bagaimanapun, satu divisi berarti satu tugas dan tanggung jawab. Meskipun terdiri atas berbeda-beda orang dengan berbeda-beda kapabilitas tetapi tetap harus SATU…dan tugas dari managerlah untuk menyatukan itu semua. Gimana Pak Manager



gejolak dibawah, sulit memang untuk meredamnya, tapi setidaknya diperlukan kedewasaan dan kebijaksanaan lebih untuk mereka