SITAC Issue
Dibawah ini merupakan cuplikan dari isi forum telekomunikasi di STMB Telkom.
Setelah beberapa lama terjun ke lapangan. Saya mulai mengamati beberapa permasalahan yang mencolok di seputar tower. Dimana permasalahan tersebut melibatkan beberapa pihak. Kontraktor tower, PLN sebagai supplier listrik dan warga sekitar. Biasanya ketika terjadi pembangunan, kontraktor yang ditunjuk setelah berkoordinasi dengan pihak SITAC (Site Acquisition) melakukan proses pembangunan tower beserta seluruh elemen-elemnnya. Dan ketika proses tersebut berjalan, salah satu proses yang lumrah adalah negosiasi dengan warga dan masyarakat sekitar.
Secara umum, pihak kontraktor dan pihak pemberi pekerjaan (operator) memberikan uang kompensasi kepada warga sekitar dengan radius seputar jatuhan tower (disesuaikan dengan ketinggian tower). Selain itu biasanya dalam proses pengerjaan tersebut, preman-preman setempat beraksi dengan menjadikan para pekerja sebagai sasaran empuk untuk pemerasan. Bagi mereka (pekerja tower) hal tersebut sudah biasa. Okelah … masalah kompensasi kepada msayarakat dan masalah preman mungkin masalah biasa di negeri ini. Biasanya masalah ini diperparah dengan kehadiran LSM yang sok-sok tahu dan ingin mendapatkan kue bagian dari pembangunan tower ini. Biasanya mereka memanas-manasi masyarakat sekitar seputar keberadaan tower ini, dan biasanya pula … mereka mengerahkan preman-preman untuk mengintimidasi pihak kontraktor.
Masalah tidak berhenti sampai disini saja, pihak kontraktor pun biasanya banyak yang nakal…, demi menghindari biaya overhead diatas, biasanya kontraktor menjanjikan sesuatu kepada warga sekitar dan kepada preman setempat. Dan setelah pekerjaan tersebut selesai, mereka meninggalkan site tanpa pernah kembali. Sehingga pihak vendor perangkat yang melakukan instalasi dan pihak operator yang melakukan pekerjaan selanjutnya menjadi sasaran mereka. Selain itu … pihak kontraktor pun kerap menjadi dalang pencurian di seputar lokasi site. Biasanya mereka menunggu site tersebut beres di ATP, dan setelah selesai di ATP mereka dengan mudah (karena sebelumnya mereka mempunyai master key ke lokasi) melakukan pencurian. Atau jika bukan mereka, biasanya komplotan pencuri yang merupakan spesialis pencurian di wilayah tower. Barang-barang yang dicuri biasanya berupa grounding bus bar (berupa potongan tembaga) dan kabel feeder. Tapi yang paling sering hilang adalah grounding bus bar. Dimana di pasaran harga lempengan tembaga ini mencapai Rp.1 Juta per 1 keping.
Masalah-masalah tersebut diatas merupakan lingkaran setan yang sudah mengakar dan membudaya didalam proses pembangunan sebuah tower. Lahan bisnis baru dan menggiurkan. Bagi kami petugas lapangan, hal ini menjadi masalah yang biasa ditemui sehari-hari. So … buat temen-temen yang berencana menjadi petugas lapangan …, jangan kaget jika satu saat menemui hal seperti ini.
——————————————————
ngadepin preman itu kayaknya emang gampang-gampang susah sih yan, tapi salah satu jurus buat menangani mereka itu bisa dengan cara melibatkan mereka menjadi komponen proyek.
Dulu waktu ada proyek perumahan di Awiligar, awalnya preman-preman disitu jadi masalah malahan kabarnya kebanyakan preman mantan narapidana, tapi setelah dijadiin keamanan / satpam hasilnya malah mereka ngelindungin jalannya proyek dan cukup membantu. prosesnya sekitar 1 tahun buat pdkt sama warga sekitar, kurang lebih 3 bulanan buat ngelatih dan memberikan pengertian sama mereka…ngadepin preman, tokoh masyarakat sama LSM sepertinya soft skill nya kudu dikeluarin…itu buat proyek perumahan sih..tau bisa diterapin atawa kagak di proyek BTS…
——————————————————
Yup, proses pendekatan yang baik terhadap warga sekitar juga merupakan proses yang penting bagi kelangsungan proyek selanjutnya. Di daerah karawang, purwakarta dan cikampek, karena daerah tersebut menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa sehari-hari, maka warga sekitar dan preman sekitar lebih appreciate terhadap kita jika kita mendekati mereka dengan menggunakan bahasa sunda. Bahkan mereka jadi sangat hormat sekali terhadap kita. Selidik punya selidik … mungkin ini kerjaan orang SITAC, dimana pendekatan mereka kurang baik. Dan mungkin juga karena orang SITAC dan para pekerja kontraktor tersebut mereka adalah orang-orang dari seberang (luar sunda) yang cenderung keras.
Contoh lain … satu proyek pernah gagal di Tasikmalaya, hanya gara-gara orang yang ngedeketinnya salah ngomong waktu nawarin makan bareng.
Intinya … pendekatan dengan kedaerahan merupakan pendekatan yang ampuh untuk digunakan, tapi tidak selalu berhasil di daerah rural urban. Dimana orang yang ada sudah campuraduk.



Sitac. SIS,Ijin warga, merupakan sebahagian kecil dari proses sitac yang sebenarnya. inti dari pekerjaan sitac adalah ketika satu lokasi mulai berjalan Proses pengerjaan CME, dimana akan bermunculan persoalan-persoalan kecil dan besar yang di mana Tim sitac sangat berperan penting untuk terlibat dalam penyelesaiannya. Persoalannya kemudian proyek pengerjaan BTS biasanya terdiri dari beberapa Kontraktor dimana kontraktor yg mengerjakan sitac itu lain dengan kontraktor yang mengerjakan CME, dimana ketika terjadi permasalahan sitac pada saan proses CME berjalan, akan terjadi lempar melempar permasalahan antara kontraktor yang mengerjakan CME dan kontraktor ynag mengerjakan Sitac. Saran saya agar tidak terjadilagi persoalan2 seperti ini dikemudian hari makan sebaiknya yang mengerjakan Sitac dan CME itu satu kontraktor dan ketika terjadi permasalahan di lapangan maka tidak terjadi tuding menuding persoalan antar kontraktor dimana dampaknya dirasakan lansung oleh oprator yang bersangkutan. dan mengenai Pekerjaan Sitac di mana orang2nya harus benar2 propesional, seorang tim sitac dari suku medan yang di mana intonasi bahasanya keras bukan alasan tidak bisa mengerjakan proses sitac Di daerah jawa barat di mana mayoritas masyarakatnya dikenal dengan kelembutan dan keramahannya, selama tim sitac tersebut berpengalaman dan betul2 bersikap propesianal.
Terimakasih
Saiful islam
ifoel_bdg@yahoo.co.id