Air Untuk Kesejahteraan Kita


Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan melakukan troubleshooting dan ATP BTS di daerah barat dan timur Jakarta. Tepatnya didaerah Tanggerang, Banten sampai dengan daerah Karawang dan Purwakarta, Jawa Barat. Dimana di tempat tersebut terdapat beberapa BTS yang berfungsi sebagai sub hub/ penghubung antara BTS di end site/ ujung sampai dengan BSC di Jakarta. Sehingga keberadaan BTS tersebut hanya sebagai penunjang, selebihnya fungsi dari tower tersebut hanya sebagai hop untuk transmisi. Okelah, saya gag akan cerita banyak soal itu. Hal yang ingin saya ceritakan adalah hasil dari pengamatan saya di beberapa tempat yang pernah saya kunjungi.

Di daerah tanggerang, Banten, yang saya temui adalah daerah pertanian dengan lahan pertanian yang hampir tandus/ kering. Sehingga sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah daerah dengan lahan berwarna coklat dan tandus. Selain itu, udara panas terasa begitu menyengat. Hal itu belum seberapa, ketika saya melihat kehidupan masyarakat disana, yang terlihat adalah masyarakat petani miskin yang mencoba bertahan hidup. Hal yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika saya akan melaksanakan shalat. Dimana saya kesulitan mencari mushala. Dan ketika saya mendapati mushala, kondisi mushala yang ada sangat menyedihkan. Lebih mirip disebut kandang ayam. Dimana hanya berbentuk bangunan kotak panjang, tidak ber cat, dan berlantai tidak rapih, dengan jendela dipasangi bambu layaknya kandang ayam. Selain itu, yang paling parah adalah kondisi tempat wudlu. Karena tidak terdapat tempat untuk berwudlu, dan kami hanya menumpang pada WC salah satu penduduk disana, itupun sumurnya kering. Secara umum kondisi masyarakat disana kehidupannya layaknya kota mati. Sebagian besar penduduknya  menganggur dan lebih memilih untuk tiduran dan beristirahat didalam rumah. Selain itu, masyarakat disini terlihat sangat keras terhadap pendatang.

Kondisi yang kontras saya lihat didaerah timur Jakarta. Tepatnya didaerah Karawang dan Purwakarta. Kondisi lahan pertanian disini begitu subur, dimana ketersediaan air begitu melimpah. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah hamparan sawah yang hijau dengan air yang cukup dan melimpah. Selain itu, di sepanjang jalan terlihat para petani sekitar memajang buah timun suri hasil perkebunan mereka beserta hasil alam lainnya untuk dijajakan. Buah timun suri, buah semangka dan buah-buahan lainnya terlihat segar dan besar-besar. Kondisi masyarakat disana secara umum terlihat sangat makmur, terlihat dari kondisi kampung yang bersih hijau dan rindang dengan banyak pepohonan. Rumah yang ada besar-besar dan terlihat apik dan asri ditata dan dipadu dengan segala macam pepohonan. Mulai dari buah-buahan sampai dengan tanaman penghias pagar dan halaman. Masjid yang ada disana … terlihat sangat besar, nyaman dan modern. Dimana segala macam kelengkapan ibadah dan penunjangnya tersedia lengkap. Selain itu, masyarakatnya pun terlihat sangat bersahabat dan terbuka kepada pendatang. FYI, kampung yang saya kunjungi rata-rata berada sekitar setengah jam perjalanan dari pusat kota (karawang/purwakarta).

Dari dua pengamatan diatas, saya menyimpulkan bahwa air memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat kita, masyarakat agraris. Kesejahteraan masyarakat terkait penting dengan berbagai elemen sosial.  Budaya, agama, ekonomi … dan banyak hal lainnya lagi. Saya hanya bertanya … kapan pemerintah kita menyadari bahwa air memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat kita. Seperti yang selalu dibahas didalam berbagai cerita/ kebudayaan/ dongeng/ dan kepercayaan-kepercayaan.

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
PETEMPURAN HATI
SITAC Issue

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!