Team


Hmmmm, saya tahu, sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Ada beberapa alasan kenapa saya tidak menulis di blog ini, pertama…kedua dan selebihnya adalah malas. Malas saya ini disebabkan oleh banyak hal, pertama kedua dan selebihnya itu adalah karena saya sedang menghadapi masalah. Dan masalah saya itu banyak, pertama kedua dan selebihnya itu masalah saya ada pada diri saya sendiri dan lingkungan saya. Jadi intinya, lingkungan itu mempengaruhi kita untuk mengambil keputusan, apakah saya mengpdate blog saya atau tidak? itu semua tergantung lingkungan saya.

SALIVA - SUPERSTAR II - Lyrics


Denger lagu ini dari video freeride yang saya download di youtube. Coba di denger2 lagi…enak juga, dan lumayan dalem. :)

Eniwei, beberapa tahun belakangan ini saya jadi gag suka banget sama lagu Indonesia. Kebanyakan band2 Indonesia kok jadi cemen2 yah, terus kayaknya itu2 terus topiknya. Seputar percintaan, seputar perselingkuhan, seputar masalah hubungan. BAH!!! bosan dengernya.  Coba baca lirik dibawah, ini pasti beda.

“Been floating around up here on Cloud 11
I did my best to make it to 27,
Open up my eyes and I can see the glory
Now I’m alive and I’m gonna tell the story,
Now I’m a superstar in the making
I ain’t fucking around and there ain’t no mistaking,
I never ask for something worth the taking
Cause I’m a superstar, baby!

No crying-ass bitching about my wife or girlfriend
Cause in my life I can’t have either one,
No crying-ass bitching about my evil parents
They did their best to raise their only son,
Now I’m a superstar in the making
I ain’t fucking around and there ain’t no mistaking,
I never ask for something worth the taking
Cause I’m a superstar, baby!

I’m on the rise, I’m feeling fine.
BOOM
Here come the real motherfuckers from the south!

Now I’m a superstar in the making.
I ain’t fucking around and there ain’t no mistaking.
I never ask for something worth the taking.
Cause I’m a superstar, baby!

Superstar, baby!
Superstar, baby!
Superstar, baby!”

Catatan Untuk Kereta Api


Sebagai frequent user dari kereta Argo Gede jurusan Bandung-Jakarta (PP), saya mempunyai beberapa catatan dari hasil pengamatan saya selama menggunakan jasa angkutan ini.

- Penawaran Makanan

salah satu hal yang paling mencolok yang saya rasakan agak janggal dari penawaran makanan diatas kereta adalah, bahwa mereka tidak memberikan menu yang disediakan kepada penumpang, atau setidaknya menu makanan itu harusnya disimpen di jok penumpang, sehingga penumpang menjadi tahu apa yang ingin dia makan dan berapa harganya. Karena selama ini, makanan hanya ditawarkan dalam bentuk penawaran secara lisan, tanpa ada foto dari bentuk makanan dan harganya. Sehingga, saya sendiri sebagai penumpang jadi males untuk memesan, meskipun saya saat itu dalam keadaan lapar.

- Menu Makanan

bagai para penumpang kelas eksekutif, sebenarnya disediakan makanan/snack gratis yang dibagikan ditengah perjalanan. Tetapi saya rasa menu snack yang dibagikan membosankan dan rasanyapun tidak enak. Sementara menu snacknya juga terlalu kebarat-baratan…gag mencerminkan Indonesia. kenapa harus roti dan bolu? dan ditemani air mineral dalam gelas? kenapa tidak mencoba memberikan menu snack yang khas Indonesia? seperti lemper, gorengan atau kue-kue khas Indonesia. Saya yakin harganyapun jauh lebih murah dari snack yang selama ini dibagikan.

Selain itu, menu makanan yang dijual pun rasanya terlalu kebarat-baratan…sekali lagi, tidak mencerminkan menu Indonesia. Kenapa tidak menawarkan menu khas Indonesia, seperti menu khas sunda/parahyangan untuk kereta2 yang menuju ke tatar parahyangan, atau menu2 khas Jawa Tengah & Jawa Timur untuk kereta2 yang menuju kesana. Saya yakin, ini jauh lebih menarik bagi para pengguna jasa kereta api. Saya pribadi sebagai pengguna kereta Argo Gede yang berangkat pagi2 dari Bandung menuju Jakarta, cenderung menginginkan penganan tradisional khas Bandung (gorengan) hangat2 beserta segelas teh tawar hangat yang menemani perjalanan saya melawati tatar sunda yang eksotis. Dibanding bistik sapi yang gag jelas rasanya dan belum tentu pas di mulut dan perut saya.

Lalu, dari harga, kenapa harga makanan diatas kereta harus selalu lebih mahal? wait…mahal mungkin OK, tapi reasonable lah…jangan mahal dan memberatkan. Masak secomot nasi goreng dijual dengan harga mendekati Rp.15000, sementara rasanyapun tidak semahal itu. Harga Rp.10000 mungkin udah cukuplah. Saya rasa, semua harga makanan diatas kereta harus dievaluasi lagi, dan pihak yang terkait seharusnya berpikir untuk tidak mengambil keuntungan dulu sebelum memberikan pelayanan yang terbaik.

Eit…sebelum habis, saya juga ingin mengkritik gerbong restorasi beserta para karyawannya. Restorasi seharusnya bisa dijadikan gerbong untuk makan oleh para pengguna jasa kereta api, bukan sebagai tempat tiket berdiri dan tempat naik gratisan. Selain itu, para penumpang kereta juga bingung kemana harus memanggil petugas restorasi jika ditengah perjalanan membutuhkan asistensi dan bantuan dari petugasnya.

Hmmm, rasanya banyak banget yang harus diperbaiki. Tapi gapapakan? demi kemajuan kereta api Indonesia.

Let Me Die in My Footsteps


I will not go down under the ground
‘Cause somebody tells me that death’s comin’ ‘round
An’ I will not carry myself down to die
When I go to my grave my head will be high,
Let me die in my footsteps
Before I go down under the ground.

There’s been rumors of war and wars that have been
The meaning of the life has been lost in the wind
And some people thinkin’ that the end is close by
“Stead of learnin’ to live they are learning to die.

Let me die in my footsteps
Before I go down under the ground.
I don’t know if I’m smart but I think I can see
When someone is pullin’ the wool over me
And if this war comes and death’s all around
Let me die on this land ‘fore I die underground.
Let me die in my footsteps
Before I go down under the ground.

There’s always been people that have to cause fear
They’ve been talking of the war now for many long years
I have read all their statements and I’ve not said a word
But now Lawd God, let my poor voice be heard.
Let me die in my footsteps
Before I go down under the ground.

If I had rubies and riches and crowns
I’d buy the whole world and change things around
I’d throw all the guns and the tanks in the sea
For they are mistakes of a past history.
Let me die in my footsteps
Before I go down under the ground.

Let me drink from the waters where the mountain streams flood
Let me smell of wildflowers flow free through my blood
Let me sleep in your meadows with the green grassy leaves
Let me walk down the highway with my brother in peace.
Let me die in my footsteps
Before I go down under the ground.

Go out in your country where the land meets the sun
See the craters and the canyons where the waterfalls run
Nevada, New Mexico, Arizona, Idaho
Let every state in this union seep in your souls.
And you’ll die in your footsteps
Before you go down under the ground.

(Words and Music by Bob Dylan)
1963, 1965 Warner Bros. Inc., Renewed Special Rider Music

Previous Articles

Agen Perubahan itu ternyata…


Tentang Saya

Dian Nur Nugraha, laki-laki 25 tahun, bergelut di bidang telekomunikasi dan informatika. Menyelesaikan studinya di STMB Telkom Bandung. Bekerja sebagai Junior Engineer pada sebuah operator telekomunikasi di Indonesia.

 

Telkom.TV

My Album

www.flickr.com

Shout!!!

  • Hobby

  •