Cedera
Hari minggu kemaren seperti biasa saya jalan naik sepeda, rute yang saya pilih adalah dayeuhkolot - buah batu - dago - dago pakar - maribaya trus balik lagi, berhubung saya lagi males gabung ama temen2 saya, akhirnya saya jalan sendirian.
Perjalanan pergi gag ada masalah, dan saya sangat berhati-hati mengingat kondisi jalan yang saya lalui licin, sementara kondisi sepeda saya gag prima (kanvas rem sudah menipis). Ketika pulang saya gag menemuin masalah juga, terutama ketika berada di area hutan raya. Begitu keluar dari pintu hutan raya, saya memperlambat laju sepeda karena turunan yang lumayan curam, pas lagi turun saya gag menurunkan ketinggian jok sepeda saya, dan berusaha meraih botol minum, sementara di depan saya ternyata sudah ada polisi tidur….alhasil…saya jatuh terlempar dari sepeda…dengan posisi kepala menghajar aspal duluan.
Sempet diobatin di TKP, terus pulang ke rumah masih pake sepeda, dan sempet beli tiket buat ke Jakarta u hari ini, nyampe rumah langsung ke klinik dan cuci2 luka, masih gag ada masalah. Masalah timbul pas malem2…badan pueegel bgt, dan kepala mulai pusing tak tertahankan…, akhirnya pagi tadi saya memutuskan untuk gag pergi ngantor.
Home is the Sailor Home from the Sea
“Requiem” by Robert Lewis Stevenson
Under the wide and starry sky
Dig the grave and let me lie:
Glad did I live and gladly die,
And I laid me down with a will.
This be the verse you grave for me:
Here he lies where he longed to be:
Home is the sailor, home from the sea,
And the hunter home from the hill.
Rencana Penertiban Tower
Membaca mengenai rencana penertiban tower di Jakarta hari ini di KOMPAS, dimana pihak pemerintah akan membatasi dan mengurangi jumlah tower yang ada, dan menyesuaikannya dengan rencana tata kota.
Untuk membahas mengenai tower, ada baiknya kita mengenal jenis2 tower dahulu. Berdasarkan literatur yang saya baca, saya rasa jenis2 tower yang disebutkan di BLOG saudari Mimin sudah mencakup tower2 yang ada di sekitar kita saat ini. Di blog di atas, disebutkan bahwa tower dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan berdasarkan lokasi berdirinya.
Jika kita melihat berdasarkan jenis lokasinya, tower dapat diklasifikasikan kepada dua jenis, yaitu rooftop (tower yang berdiri diatas atap sebuah gedung) dan greenfield (tower yang berdiri langsung diatas tanah). Sedangkan jika diklasifikasikan berdasarkan bentuk, tower dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
- Rectangular : Bentuk towernya segi empat dengan four leg
- Triangle : Bentuk towernya segi tiga dengan three leg
- Pole : Bentuk towernya ya … cuma one leg, like pipe
berdasarkan klasifikasi diatas, jenis, bentuk tower dan lokasinya maka tower yang ada yang ada di sekitar kita ada empat jenis, yaitu;
-
Tower MT [Mini Tower] : ketinggiannya mencapai 20 m.
-
Tower SST [Self Supporting Tower] yang jelas tower jenis ini punya 4 kaki, Dan biasanya dah ditentukan ketinggiannya misal: SST 42 m, SST 72 m sampai dengan 120 dan 200 meter
-
Tower Minipole : tower dengan pipa biasa, 1 kaki saja [satu pipa] biasanya dengan diamater 4 m, 6 m, 12 m.
-
Tower Monopole : Diameter pipanya lebih besar dibandingkan dengan tower minipole
Dua jenis tower pertama (MT dan SST) diatas biasanya berdiri diatas lahan Greenfield, dapat ditemui di daerah dimana jarang terdapat gedung yang tinggi, ato di daerah pinggiran kota dan daerah2 terpencil, sedangkan dua jenis berikutnya (Minipole dan Monopole) biasanya didirikan diatas rooftop dimana di daerah tersebut banyak terdapat gedung2 yang tinggi dan daerah2 padat.
Selain jenis2 tower, juga perlu dibahas mengenai ketinggian tower. Ketinggian tower biasanya dipengaruhi oleh rencana penggelaran jaringan oleh pihak operator terkait, menyangkut kepada coverage dari jaringan, sistem transmisi dan dua hal ini pun terkait kepada kondisi lingkungan sekitar (terrain, interferrence, fresnel zone dll).
Di daerah kota Jakarta sendiri, jarang saya temui lokasi2 BTS yang menggunakan tower SST, karena lingkungan di Jakarta didominasi oleh gedung2 tinggi, sementara di daerah pinggiran Jakarta (BoTaBek), hampir semua lokasi menggunakan SST dengan ketinggian bervariasi (45 s/d 72). Selain ditempatkan diatas tower, banyak juga dari antena tersebut ditempatkan/ditempelkan pada gedung2 bertingkat dan menara masjid(dapat dilihat pada gambar diatas).
(sampai detik ini saya heran, kok monas belum ada yang berani nempelin yah?)
Fungsi dari tower adalah untuk menempatkan antena pemancar sinyal (jaringan akses) untuk memberikan layanan kepada pelanggan di sekitar tower tersebut. Selain itu, penggunaan tower juga berfungsi untuk penempatan antena pemancar sinyal transmisi (jaringan transport dengan menggunakan teknologi microwave) untuk menghubungkan pelanggan di daerah tersebut dengan sentral (BSC).
Penggunaan teknologi microwave sendiri untuk jaringan transport bukan tanpa alasan, tak lain karena kemudahan dalam pemasangan/installasi dan biaya yang murah terkait kepada CAPEX dan OPEX, menjadi alasan utama kenapa teknologi ini diandalkan oleh banyak operator.
Permasalahan yang dihadapi oleh operator seluler saat akan menggelar jaringannya/saat penempatan antena & tower di satu lokasi biasanya berkutat seputar ;
- Perizinan dari departemen dan pemerintah daerah terkait (tiap daerah memiliki izin dan aturan tata ruang yang berbeda-beda)
- Perizinan dari warga dan lingkungan
- Interferensi sinyal dengan operator lain
- Rencana penggelaran jaringan dari manajemen (jangkauan dan kualitas layanan)
Berdasarkan dari permasalahan yang ada di atas, rencana penertiban tower ini akan menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk bagi operator existing, karena penggantian tower dengan penggunaan jaringan serat optik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penggelaran jaringan serat optik sendiri akan menimbulkan masalah tersendiri bagi operator (biaya penggelaran dan biaya perawatan dan pengoperasian yang tidak murah) dan bagi pemerintah daerah setempat (tata ruang).
Perlu kajian khusus dari kedua belah pihak agar dapat dicari solusi terbaik yang dapat saling menguntungkan. Karena telekomunikasi saat ini sudah menjadi kebutuhan utama, selain itu pengelolaan yang tepat dapat menjadikan keberadaan dari operator telekomunikasi di satu daerah dapat menjadi pemasukan tambahan bagi pemerintah daerah tersebut karena dengan adanya kemudahan bertelekomunikasi, akan dapat mendukung kelangsungan perekonomian masyarakat di daerah tersebut.
Work Smart Not Hard
Jika anda seorang field engineer yang sedang menghadapi kondisi darurat saat mendapat dispatch dari NOC/BSC, saya sarankan untuk melakukan hal2 seperti berikut ini;
- Tetap tenang, ambil nafas dalam2
- Terima dan catat dengan detail semua informasi yang diberikan oleh dispatcher
- Kumpulkan informasi2 yang kira2 dianggap perlu seperti;
- History Log dari site tersebut 24/48 jam terakhir (dapat ditanyakan langsung kepada dispatcher), baik itu history dari status perangkat maupun history dari pekerjaan2 ekternal yang menyangkut terhadap site tersebut dan site2 yang berhubungan (uplink & downlink)
- Link transmisi dari site tersebut (uplink dan downlink), mengantisipasi asal dari masalah
- Community Issue dari site tersebut, ini penting karena kita harus tahu kondisi lingkungan kerja kita sebelum kita masuk/mendatangi area tersebut
- Status dari site tersebut, apakah memang sudah masuk menjadi tanggung jawab kita atau bukan, on air atau off air/temporary, karena jika sampai kita tidak memperhatikan status dari site tersebut, bisa jadi kita ikut campur dalam urusan orang lain
- Siapkan peralatan/tools yang kira2 dianggap perlu (kunci2, kabel2 dll)
- Siapkan makanan secukupnya (kita gag pernah tahu berapa lama kita ada di lapangan)
Hal2 diatas, saya simpulkan dari pekerjaan dan tanggung jawab saya selama ini, karena seringkali ketika menghadapi dispatch dari NOC/BSC, yang bersangkutan malah panik gag karu2an dan tidak memperhatikan hal2 diatas. Seperti yang saya bilang…work smart!, not hard.







Last Comments